Richard Kahn adalah seorang pemikir dan pendidik progresif yang menjadi salah satu tokoh utama dalam gerakan ecopedagogy—sebuah pendekatan pendidikan yang menggabungkan kesadaran ekologis, keadilan sosial, dan pedagogi kritis. Ia mengajar di Antioch University dan dikenal karena kiprahnya dalam berbagai jurnal pendidikan bergengsi, termasuk sebagai editor Green Theory and Praxis: The Journal of Ecopedagogy serta pendiri The International Journal of Illich Studies. Karya-karyanya, seperti Critical Pedagogy, Ecoliteracy, and Planetary Crisis dan Greening the Academy, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar melatih kemampuan kognitif, tetapi harus menumbuhkan kesadaran planet yang adil, damai, dan berkelanjutan. Melalui riset dan tulisannya, Kahn menunjukkan bagaimana gerakan sosial dunia dapat menjadi ruang belajar yang membebaskan, sementara institusi dan ideologi dominan sering kali justru menghambat lahirnya pembelajaran yang benar-benar memerdekakan manusia dan bumi.
Sebagai seorang pemikir dan pendidik, Kahn peduli terhadap pendidikan dan lingkungan. Ia memperkenalkan gagasan ekopedagogi, yaitu cara belajar yang membantu manusia memahami dan mencintai alam. Menurut Kahn, pendidikan seharusnya tidak hanya membuat siswa pandai dalam pelajaran, tetapi juga membuat mereka sadar bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.
Kata ekopedagogi (ecopedagogy) berasal dari dua kata: eco yang berarti alam, dan pedagogy yang berarti pendidikan. Jadi, ekopedagogi berarti pendidikan yang berhubungan dengan alam. Melalui ekopedagogi, siswa diajak untuk belajar tentang kehidupan dengan cara yang menyatu dengan lingkungan—bukan hanya lewat buku, tetapi juga melalui pengalaman langsung seperti berkebun, menanam pohon, atau menjaga kebersihan sungai.
Bagi Kahn, belajar tentang alam bukan sekadar menghafal nama tumbuhan atau hewan. Lebih dari itu, ekopedagogi mengajak kita menggunakan hati dan pikiran untuk memahami hubungan kita dengan bumi. Kita belajar bahwa setiap tindakan manusia, sekecil apa pun, bisa membawa dampak bagi lingkungan. Jika kita membuang sampah sembarangan, misalnya, maka sungai bisa tercemar dan makhluk hidup di dalamnya akan menderita.
Kahn menekankan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kita terhubung dengan alam—dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, sampai makanan yang kita makan. Jika alam rusak, manusia juga akan menderita. Karena itu, ekopedagogi mengajarkan kita untuk menghargai kehidupan dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Menurut Kahn, sekolah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis. Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, bahasa, atau sains, tetapi juga tempat untuk belajar menjadi manusia yang peduli terhadap bumi. Melalui kegiatan seperti daur ulang, proyek taman sekolah, atau diskusi tentang perubahan iklim, siswa dapat belajar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral.
Ekopedagogi tidak berhenti pada teori. Kahn ingin agar siswa belajar untuk bertindak nyata. Artinya, setiap pengetahuan yang kita pelajari tentang alam seharusnya membuat kita mau melakukan sesuatu yang baik—misalnya mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, atau membantu kampanye lingkungan. Pendidikan sejati, kata Kahn, adalah ketika pengetahuan berubah menjadi tindakan yang membawa kebaikan.
Tujuan utama ekopedagogi adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap alam. Jika kita mencintai sesuatu, kita akan menjaganya. Kahn percaya bahwa anak-anak yang tumbuh dengan rasa cinta kepada alam akan menjadi generasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab. Mereka tidak hanya berpikir tentang keuntungan pribadi, tetapi juga tentang masa depan bumi dan kehidupan di dalamnya.
Kahn juga mengaitkan ekopedagogi dengan keadilan sosial. Ia mengatakan bahwa kerusakan alam sering membuat orang miskin menjadi korban. Misalnya, ketika hutan ditebang habis, banyak penduduk kehilangan sumber hidupnya. Karena itu, ekopedagogi mengajarkan kita untuk membangun dunia yang adil dan berkelanjutan, di mana semua orang bisa hidup sejahtera tanpa merusak bumi.
Esensi pemikiran Richard Kahn tentang ekopedagogi adalah bahwa pendidikan harus membuat manusia sadar, peduli, dan bertindak untuk menyelamatkan bumi. Alam bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan sahabat yang harus dijaga. Dengan belajar dari alam, kita belajar tentang kehidupan itu sendiri—tentang kesederhanaan, keseimbangan, dan kasih sayang. Jika kita mulai dari hal kecil, seperti menanam pohon atau tidak membuang sampah sembarangan, maka kita sudah ikut menjaga masa depan bumi. [10/11/25]
Sumber: https://www.antioch.edu/faculty/richard-kahn/