Merayakan Keberagaman Alam dan Kebebasan Hidup
Konsep ekopedagogi queer (queer ecopedagogies) mulai muncul pada awal abad ke-21 sebagai respons terhadap keterbatasan pendekatan pendidikan lingkungan yang cenderung normatif dan moralistik. Dalam beberapa jurnal seperti Green Theory and Praxis serta Environmental Education Research, para pemikir kritis seperti Catriona Mortimer-Sandilands, Greta Gaard, dan Noël Sturgeon mulai mengaitkan teori queer dengan ekologi untuk membongkar cara-cara patriarki, kolonialisme, dan kapitalisme telah membentuk relasi manusia dengan alam. Mereka menyoroti bahwa krisis ekologis bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga krisis identitas dan relasi sosial. Dari sinilah lahir gagasan bahwa pendidikan ekologis perlu menjadi ruang yang inklusif, reflektif, dan berani menantang batas-batas “normalitas” dalam berpikir dan hidup.
Dalam dunia pendidikan yang kerap membatasi cara berpikir dan hidup manusia ke dalam kategori-kategori kaku, Queer Ecopedagogies hadir sebagai seruan untuk membebaskan cara kita memahami hubungan antara manusia dan alam. Istilah ini memadukan dua arus pemikiran besar: queer theory, yang menolak norma dan hierarki sosial, dan ecopedagogy, yang menekankan kesadaran ekologis dan tanggung jawab planet. Bersama-sama, keduanya menantang cara pendidikan tradisional memisahkan manusia dari alam, rasionalitas dari emosi, dan normal dari yang dianggap menyimpang.
Akar pemikiran queer ecopedagogy dapat ditelusuri dari gagasan Paulo Freire tentang pendidikan sebagai tindakan pembebasan, dipadukan dengan pemikiran tokoh-tokoh queer seperti Judith Butler dan Eve Kosofsky Sedgwick. Mereka melihat bahwa ketidakadilan sosial tidak hanya terjadi karena faktor ekonomi atau politik, tetapi juga karena sistem budaya yang memaksa kita untuk hidup sesuai dengan “aturan normalitas.” Bila pendidikan terus memperkuat norma tersebut, maka ia bukan ruang kebebasan, melainkan alat reproduksi penindasan.
Dalam konteks ekologi, pendekatan queer menolak pandangan bahwa alam hanyalah latar atau objek untuk dimanfaatkan manusia. Alam sendiri bersifat “queer”: tidak pernah tetap, penuh variasi, dan selalu berubah. Dari hutan yang tumbuh liar hingga spesies yang menyesuaikan diri di luar pola “normal,” alam mengajarkan bahwa keberagaman dan perubahan adalah inti kehidupan. Queer ecopedagogy mengajak kita untuk belajar dari dinamika ini—bahwa hidup selaras dengan bumi berarti menerima dan merayakan perbedaan.
Dengan demikian, queer ecopedagogy bukan sekadar teori akademik, tetapi sebuah ajakan moral dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa segala bentuk dominasi—baik terhadap manusia, gender, maupun alam—berakar dari keinginan untuk menertibkan dan menguasai. Pendidikan yang membebaskan harus berani melawan dorongan ini. Guru dan siswa perlu belajar untuk mempertanyakan norma, untuk melihat nilai dalam “yang lain,” dan untuk membangun empati lintas batas kehidupan.
Dalam praktiknya, queer ecopedagogy dapat diwujudkan melalui pendekatan belajar yang cair, reflektif, dan berbasis pengalaman. Misalnya, kelas luar ruang yang mendorong siswa mengamati keragaman makhluk hidup tanpa prasangka, diskusi tentang identitas dan perbedaan melalui fenomena alam, atau proyek komunitas yang menggabungkan seni, sains, dan ekologi. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses memahami kehidupan yang terus berevolusi.
Salah satu kekuatan queer ecopedagogy terletak pada keberaniannya untuk membongkar hubungan kuasa yang tersembunyi dalam struktur pendidikan. Ia mengungkap bagaimana kurikulum sering menyajikan pengetahuan yang maskulin, rasional, dan antroposentris, sementara menyingkirkan pengalaman, emosi, dan kebijaksanaan komunitas lokal. Dengan membuka ruang bagi narasi yang berbeda, pendidikan dapat menjadi tempat bagi semua suara—manusia dan non-manusia—untuk didengar dan dihargai.
Dalam dunia yang tengah dilanda krisis ekologis dan sosial, queer ecopedagogy memberi arah baru bagi gerakan pendidikan planet. Ia menolak logika biner yang memisahkan manusia dari alam, sains dari nilai, dan keberagaman dari kebenaran. Sebaliknya, ia menawarkan paradigma relasional: setiap makhluk hidup saling terhubung dalam jaringan kehidupan yang dinamis. Menyadari keterhubungan ini berarti memulihkan kembali rasa hormat, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi.
Lebih jauh, pendekatan ini menanamkan kesadaran bahwa keberlanjutan sejati tidak bisa dicapai tanpa keadilan sosial dan keberagaman kultural. Menyelamatkan bumi tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang menumbuhkan keberanian untuk hidup otentik, menghormati perbedaan, dan menghapus diskriminasi dalam segala bentuknya. Dalam arti ini, queer ecopedagogy menjadi jembatan antara perjuangan lingkungan dan pembebasan manusia.
Pada akhirnya, Queer Ecopedagogies adalah panggilan untuk merangkul keanehan, keragaman, dan perubahan sebagai kekuatan kehidupan. Pendidikan yang berpihak pada bumi harus berani menjadi ruang yang cair, terbuka, dan penuh kasih—tempat di mana setiap siswa belajar bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk menjadi bagian dari tarian besar ekologi: tarian kehidupan yang tidak mengenal batas antara manusia dan alam, antara normal dan berbeda, antara diri dan dunia. [sr, 10/11/25]
Sumber: Queer Ecopedagogies: Explorations in Nature, Sexuality, and Education — disunting oleh Joshua Russell (2021). Buku ini adalah koleksi tulisan yang secara eksplisit mengaitkan ekopedagogi dengan teori queer dan menawarkan banyak wawasan teoretis dan praktis.