Greta Thunberg dan Etika Global
Greta Thunberg dikenal luas sebagai aktivis iklim asal Swedia yang menuntut respons cepat terhadap perubahan iklim. Namun dalam beberapa waktu terakhir, ia memperluas fokusnya ke isu kemanusiaan dan lingkungan dengan menyoroti situasi di Gaza. Ia melihat bahwa kerusakan lingkungan dan krisis kemanusiaan sering kali terkait—bahwa ketika manusia merusak alam dan menindas sesama manusia, terjadi juga kehancuran bagi lingkungan dan kehidupan bersama.
Keterlibatan langsung
Pada Juni 2025 Greta ikut serta dalam kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza—dengan kapal yang disebut Madleen dari Freedom Flotilla Coalition—yang berangkat dari Italia untuk menembus blokade laut yang diberlakukan oleh Israel. Ia menyatakan bahwa misi itu bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari aksi nyata yang menunjukkan bahwa dunia tidak bisa terus menutup mata terhadap penderitaan manusia.
Kritik terhadap diamnya dunia
Greta secara terbuka mengkritik bahwa kemarahan utamanya bukan terhadap penahanan dirinya, melainkan terhadap dunia yang tetap diam. Ia mengatakan: “Yang saya takutkan adalah orang-orang terdiam selama genosida yang sedang berlangsung.” Bagi Greta, tindakan paling buruk adalah diam ketika nilai kemanusiaan dilanggar—bahwa membiarkan terjadi pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan adalah bagian dari masalah.
Tudingan Genosida dan Tanggung Jawab Internasional
Dalam diatribusinya, Greta menuduh Israel melakukan “genosida yang terjadi di depan mata kita” terhadap rakyat Palestina di Gaza. Ia menekankan bahwa negara-negara memiliki kewajiban menurut hukum internasional untuk “mencegah … menghentikan genosida”, termasuk mengakhiri keterlibatan atau dukungan dalam bentuk transfer senjata dan blokade.
Lingkungan dan Kemanusiaan sebagai Satu Isu
Walaupun Greta dikenal lewat kampanye perubahan iklim, ia mengaitkan isu lingkungan dengan isu sosial-kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa blokade, penghancuran kehidupan sipil, kelaparan yang disebabkan oleh konflik dan sistem pengepungan adalah bagian dari kerusakan lingkungan yang lebih besar—ketika manusia, alam, dan hak hidup dilepaskan dari tanggung jawab bersama.
Moralitas dalam Aksi dan Aktivisme
Greta menegaskan bahwa moralitas bukanlah pilihan sampingan dalam masalah lingkungan dan kemanusiaan—itu adalah inti. Ia menyatakan bahwa tidak cukup hanya mengkritik, tetapi harus bertindak. Ia memilih bergabung dengan misi bantuan, menghadapi risiko, sebagai bentuk bahwa edukasi dan aktivisme berjalan bersama. Hal ini mencerminkan bahwa bagi Greta, lingkungan bukan hanya soal polusi atau iklim, tetapi soal bagaimana kita memperlakukan sesama manusia dan bumi.
Dunia sebagai Saksi dan Akuntabilitas
Salah satu poin yang sering ia ulang-ulang: “Tak seorang pun berhak mengatakan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Dengan pesatnya media dan kemampuan untuk mengakses informasi, menurut Greta, tidak ada lagi pembenaran untuk ketidaktahuan. Dunia sebagai saksi juga memiliki tanggung jawab untuk menuntut akuntabilitas—baik dari lembaga internasional, negara, maupun individu.
Tantangan dan Implikasi ke Depan
Tentunya, posisi Greta menimbulkan tantangan besar: ia menghadapi kritik, tuduhan sebagai pendukung ekstremisme, dan tekanan politik. Namun baginya, tantangan itu bukan alasan untuk berhenti, melainkan pemicu untuk memperkuat suara aktivisme etis. Ia menunjukkan bahwa aktivisme lingkungan dan kemanusiaan harus berani berdiri ketika sistem gagal—jika tidak, maka nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan akan terus terkikis.
Penutup
Saripati dari gagasan Greta Thunberg dalam konteks Gaza dan lingkungan adalah bahwa kemanusiaan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan—kerusakan satu berarti kerusakan bagi keduanya. Pendidikan, aksi, dan kesadaran kolektif harus bersinggungan dengan nilai etika yang lebih tinggi: menghormati kehidupan manusia dan alam. Ketika dunia membiarkan penderitaan manusia dan kehancuran lingkungan berlalu begitu saja, maka kita semua kehilangan bukan hanya sesama manusia, tetapi juga bumi yang kita wariskan. [sr, 15/10/25]